Selasa, 20 Desember 2016

Menanggapi Opini Suhardi Alius “ Sinergi Penanggulangan Terorisme” Kompas 3 Agustus 2016

 
Saya sependapat dengan opini Anda terkait dengan “Sinergi Penanggulangan Terorisme” yang termuat dalam Kompas harian edisi 3 Agustus 2016. Bahwasannya semakin hari perkembangan terorisme beserta organisasinya semakin merajalela dan menjadi ancaman bagi seluruh masyarakat dunia. Kita tahu bahwa terorisme di identikkan dengan kekerasan dan memiliki strategi atau taktik yang digunakan oleh sekelompok radikal dalam melakukan aksi, ancaman, dan kekerasan demi mencapai tujuan tertentu. Di mana cara atau taktik yang digunakan adalah menanamkan teror kepada korbannya dengan tujuan memberikan rasa ketidaknyamanan dan ketidakamanan ditengah kehidupan masyarakat.
Dalam mengatasi aksi terorisme ini, pemerintah sudah mengeluarkan segala cara. Namun cara-cara yang digunakan pemerintah belum menuai hasil yang maksimal. Kita semua tahu bahwa terorisme sangatlah tidak mudah untuk dihentikan. Apalagi terorisme selalu di identikkan dengan Agama Islam yang kenyatannya tidak seperti itu. Maka dari itu perlu adanya  beberapa langkah strategis untuk menanggulanginya. Seperti yang Anda tulis, “terorisme tidak dapat dihentikan oleh salah satu instansi saja perlu adanya kerja sama dengan instansi lain seperti Kementrian Agama, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian dalam Negeri serta Kementrian Sosial”.
Dalam hal ini peran masyarakat juga sangatlah penting khususnya untuk para generasi muda. Generasi muda adalah sasaran empuk untuk direkrut menjadi anggota jaringan teroris. Selain itu, karena memang terorisme sangatlah dekat generasi muda. Sehingga tak heran banyak dari mereka yang masuk dan terjerumus ke dalam paham radikal.  Apalagi bagi generasi muda yang putus sekolah, buta huruf, miskin, dan juga pengangguran. Di mana mereka terbuai dengan iming-iming harta atau sejumlah uang yang ditawarkan dan juga kegagahan memegang senjata.
Akan tetapi perlu diperhatikan juga karena tidak semua yang jatuh ke dalam paham radikal adalah mereka yang tidak berpendidikan.  Banyak juga kasus yang menyangkut seorang Mahasiswa yang terjerumus ke dalam jaringan terorisme. Banyak modus yang dilakukan demi tercapainya tujuan mereka. Biasanya yang mudah terjerumus adalah mereka yang tergolong idealis, emosional, dan mudah tertipu.
Di sini saya ingin menambahkan beberapa cara yang perlu dilakukan untuk mengatasi terorisme khususnya untuk generasi muda yaitu dengan menanamkan ilmu keagamaan sejak dini agar anak merasa yakin dengan agama yang dianut sekaligus agar tidak mudah goyah keimanannya sehingga tidak mudah terpengaruh terhadap paham radikal. Mengadakan komunitas belajar muslim agar para generasi muda tidak terjebak dalam aliran-aliran sesat. Selain itu mengadakan dialog terbuka untuk para terorisme yang  sudah tertangkap atau ditahan. Tentu saja dengan mengahadirkan tokoh-tokoh pemuka agama untuk memberikan nasihat dan pengetahuan ilmu agama. Meluruskan mereka untuk kembali ke jalan yang benar, dan juga sesekali mereka dipertemukan dengan keluarga mereka agar silaturahmi diantara mereka tetap terjaga karena peran keluarga sangtlah besar untuk mengembalikan pemikiran mereka terhadap paham radikal kembali pada jalan yang benar. Dengan demikian ketika mereka dibebaskan diharapkan dapat kembali melakukan aktivitas yang positif dan diterima oleh masyarakat.