Saya sependapat dengan opini Anda terkait
dengan “Sinergi Penanggulangan Terorisme”
yang termuat dalam Kompas harian
edisi 3 Agustus 2016. Bahwasannya semakin hari perkembangan terorisme beserta
organisasinya semakin merajalela dan menjadi ancaman bagi seluruh masyarakat
dunia. Kita tahu bahwa terorisme di identikkan dengan kekerasan dan memiliki
strategi atau taktik yang digunakan oleh sekelompok radikal dalam melakukan
aksi, ancaman, dan kekerasan demi mencapai tujuan tertentu. Di mana cara atau
taktik yang digunakan adalah menanamkan teror kepada korbannya dengan tujuan
memberikan rasa ketidaknyamanan dan ketidakamanan ditengah kehidupan
masyarakat.
Dalam
mengatasi aksi terorisme ini, pemerintah sudah mengeluarkan segala cara. Namun
cara-cara yang digunakan pemerintah belum menuai hasil yang maksimal. Kita
semua tahu bahwa terorisme sangatlah tidak mudah untuk dihentikan. Apalagi terorisme
selalu di identikkan dengan Agama Islam yang kenyatannya tidak seperti itu.
Maka dari itu perlu adanya beberapa
langkah strategis untuk menanggulanginya. Seperti yang Anda tulis, “terorisme tidak dapat dihentikan oleh salah
satu instansi saja perlu adanya kerja sama dengan instansi lain seperti
Kementrian Agama, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementrian dalam Negeri
serta Kementrian Sosial”.
Dalam
hal ini peran masyarakat juga sangatlah penting khususnya untuk para generasi
muda. Generasi muda adalah sasaran empuk untuk direkrut menjadi anggota
jaringan teroris. Selain itu, karena memang terorisme sangatlah dekat generasi
muda. Sehingga tak heran banyak dari mereka yang masuk dan terjerumus ke dalam
paham radikal. Apalagi bagi generasi
muda yang putus sekolah, buta huruf, miskin, dan juga pengangguran. Di mana
mereka terbuai dengan iming-iming harta atau sejumlah uang yang ditawarkan dan
juga kegagahan memegang senjata.
Akan
tetapi perlu diperhatikan juga karena tidak semua yang jatuh ke dalam paham
radikal adalah mereka yang tidak berpendidikan.
Banyak juga kasus yang menyangkut seorang Mahasiswa yang terjerumus ke
dalam jaringan terorisme. Banyak modus yang dilakukan demi tercapainya tujuan
mereka. Biasanya yang mudah terjerumus adalah mereka yang tergolong idealis,
emosional, dan mudah tertipu.
Di
sini saya ingin menambahkan beberapa cara yang perlu dilakukan untuk mengatasi
terorisme khususnya untuk generasi muda yaitu dengan menanamkan ilmu keagamaan
sejak dini agar anak merasa yakin dengan agama yang dianut sekaligus agar tidak
mudah goyah keimanannya sehingga tidak mudah terpengaruh terhadap paham
radikal. Mengadakan komunitas belajar muslim agar para generasi muda tidak
terjebak dalam aliran-aliran sesat. Selain itu mengadakan dialog terbuka untuk
para terorisme yang sudah tertangkap
atau ditahan. Tentu saja dengan mengahadirkan tokoh-tokoh pemuka agama untuk
memberikan nasihat dan pengetahuan ilmu agama. Meluruskan mereka untuk kembali
ke jalan yang benar, dan juga sesekali mereka dipertemukan dengan keluarga
mereka agar silaturahmi diantara mereka tetap terjaga karena peran keluarga
sangtlah besar untuk mengembalikan pemikiran mereka terhadap paham radikal
kembali pada jalan yang benar. Dengan demikian ketika mereka dibebaskan
diharapkan dapat kembali melakukan aktivitas yang positif dan diterima oleh
masyarakat.