Senin, 19 Desember 2016

Pentas Teater UPGRIS



Teater Jaka Tarub Universitas PGRI Semarang

            Kisah Jaka Tarub dan 7 Bidadari merupakan dongeng rakyat Nusantara yang sangat terkenal dan populer di Indonesia. Kisah yang dulunya hanya dijadikan sebagai dongeng pengantar tidur, baru-baru ini kisah Jaka Tarub dan 7 Bidadari muncul kembali dan diangkat menjadi sebuah cerita yang diperankan oleh sekumpulan anak teater. Kisah Jaka Tarub dan 7 Bidadari diperankan oleh sekumpulan Mahasiswa yang tergabung dalam anggota teater yang sudah menjuarai beberapa perlombaan, sehingga tidak mengherankan jika peran mereka berhasil menyulap mata para penonton menjadi terbuai seakan tidak ingin berkedip sedikitpun.
Pertunjukan Teater Jaka Tarub, Selasa 4 Oktober 2016 yang dipentaskan di Universitas PGRI Semarang tepatnya Gedung Pertama Lantai 7, berjalan hinga 2,5 jam. Cerita dimulai dengan alunan tembang  jawa serta terdengarnya suara teriakan oleh seorang pak tua yang memainkan tokoh Jaka Tarub sedang tidur dikursi depan gubuknya dengan tubuh bergetar hebat di bawah sinar rembulan yang dipadu dengan permainan cahaya. Selanjutnya muncul anak perempuan yang berlari keluar dari dalam gubuk dengan wajah khawatir dan langsung duduk di samping pak tua. Dengan lembut anak tersebut memberikan sekendi air putih kepada pak tua. Tentu saja perempuan yang duduk di samping pak tua adalah Nawangsih, anak semata wayan Jaka Tarub. Jaka Tarub seakan sedang menceritakan ketakutannya kepada Nawangsih terhadap mimpi yang kerap kali datang menghantuinya. Namun hanya dia diam dan mengeluarkan ekspresi ketakutan. Ketakutan-ketakutan itulah yang membawa narasi cerita. Cahaya lampu yang terang benderang mendadak padam dan suasana menjadi sunyi tanda mulai babak pertama.
Teater Jaka Tarub yang digelar kemarin malam menunjukan keseriusan para pemain untuk menggarap teater tersebut. Mereka menggarap cerita dengan mengawali kisah yang berbeda. Seperti yang sudah saya ungkapkan di atas Jaka tarub muncul dengan sosok tua keriput  dan sudah memiliki anak. Ini jelas membuat para penonton sempat kebingunan siapakah pria tua tersebut? Apakah benar pria tua yang pertama kali muncul adalah Jaka Tarub? Dalam bayangan para penonton sebelum menyaksikan teater tersebut menduga yang pertama kali muncul adalah sosok Jaka Tarub yang masih muda dan gagah. Hal inilah yang membuat kisah Jaka Tarub yang dimainkan anak teater sedikit menarik dan menjadi ketertarikan para penonton untuk mengikuti jalan ceritanya sampai akhir.
Sedikit mengulas jalan cerita Jaka Tarub pada babak pertama mengisahkan kehidupan seorang pemuda miskin yang hidup sebatang kara digubuk dan bermimpi mempunyai istri seorang bidadari. Mimpi itu kemudian menjadi kenyataan setelah ia melihat 7 Bidadari mandi di sungai dan mengambil salah satu pakaian serta selendang dari Biadadari yang mengakibatkan salah satu dari mereka tidak bisa pulang atau pergi ke kahyangan. Akhirnya tinggal di bumi dan diperistri oleh Jaka tarub. Seorang pemuda yang menyelamatkannya dan memberinya pakaian. Sepasang suami istri, Jaka Tarub dan Nawang Wulan diperankan oleh seorang pemuda gagah perkasa dan wanita cantik jelita dengan rambut semampai. Setiap hari hidup dengan kesederhanaan dan keharmonisan yang akhirnya dikaruniai seorang anak perempuan Nawangsih sebutannya.
Ketika membaca atau mendengar cerita Jaka Tarub yang disampaikan oleh orang tua, teman, atau bahkan guru saat disekolah  mereka selalu menggambarkan sosok Jaka Tarub yang gagah, perkasa dan juga kuat serta Nawang Wulan yang digambarkan seorang wanita berparas cantik jelita, angun, suara lembut, serta berkepribadian baik layaknya seorang manusia suci. Nyatanya dalam  pertunjukan teater semalam, pemeran tokoh Jaka tarub dan Nawang Wulan  sangat berbeda jauh dengan karakter tokoh yang digambarkan dalam cerita rakyat pada umumnya. Jaka Tarub kok nyeleneh yang dalam bahasa Indonesia berarti “ngelantur”dari segi bahasa. Hal ini sangat berbeda sekali dengan karakter aslinya yang gagah dalam setiap pengucapan. Begitu juga dengan tokoh Nawang Wulan yang diperankan jauh berbeda dari karakter aslinya  dapat dilihat dengan ekspresi wajah pemain yang terlihat agak judes atau kurang mesem. Nampak sekali saat adegan Jaka Tarub mengelus perut Nawang Wulan yang sedang mengandung jabang bayi Nawangsih nampak Nawang  Wulan terlihat risih dengan adegan tersebut serta memperlihatkan ekspresi kemampuh yang menunjukan bentuk penolakan. Hal ini berarti menunjukan ketidak prefesionalan dalam bermain peran. Sampai akhirnya terjadi insiden dari salah satu pemeran tokoh 7 bidadari terjatuh dari tangga saat hendak turun ke bawah. Ini sangat mengelitik. Konsep ruang yang terlihat megah dan indah ternyata tidak mendetail untuk keselamatan para pemain.Untungnya para pemain lain yang berperan sebagai tokoh 7 bidadari cukup cekatan dalam menanggapi suatu problem yang dimunculkan oleh salah satu pemain. Mereka berhasil mengembalikan suasana penonton yang awalnya gaduh akan kecerobohan salah satu pemain menjadi tenang dan menikmati kembali ceritanya.
Selain itu, terdapat pula beberapa ketidaksesuaian karakter Jaka Tarub yang ada dicerita dengan  yang diperankan oleh  tokoh Jaka Tarub. Terlihat Jaka Tarub saat berjalan mengangkang dan sedikit membungkuk. Tokoh Nawang Wulan sebagai bidadari yang jika digambarkan lemah lembut serta luwes nampak berbeda dengan cara berjalan tokoh yang kurang anggun dan terkesan terburu-buru layaknya Sinetron gadis alay yang sekarang marak muncul di stasiun televisi. Mungkin dapat dikatakan terdapat perbedaan karakter Nawang Wulan sebagai bidadari versi dahulu dengan Nawang Wulan sebagai bidadari versi zaman sekarang.
Ada juga selingan cerita yang tiba-tiba muncul dan tidak ada kaitannya dengan cerita di awal. Datangnya dua perusuh  Tapo dan Tomo yang mengaku-ngaku bakal jadi calon lurah. Adegan ini sebagai intermeso untuk mencairkan suasana yang tegang menjadi santai kembali. Tapo dan Tomo berpawakan gemuk hampir mirip dengan artis tanah air Rony Dozer yang pernah memerankan sinetron “Tuyul & Mba Yul Reborn” dan memakai kostum celana kolor panjang. Lawakan-lawakan Tapo dan Tomo berhasil mengkocak perut para penonton, tak sedikit dari mereka ada yang berlarian menuju toilet. Bisa jadi karena ulah Topo dan Tomo. Gaya mereka melawak mengikuti acara lawakan yang pernah kondang di salah satu stasiun televisi yaitu” Opera van Java”. Dalam lawakan-lawakan yang mereka sampaikan, menyajikan unsur pendidikan dan juga agama yang  bermanfaat dan sangat mendidik bagi para penonton serta termasuk selera humor berkelas. Tak lupa Topo dan Tomo juga menyajikan lagu-lagu pop yang berhasil mencairkan suasana.
Mengulas adegan terakhir ditandaai dengan gelapnya semua ruangan. Semua lampu sengaja dimatikan untuk melanjutkan kembali kisah Jaka Tarub yang belum kunjung usai. Kelahiran Nawangsih membawa kebahagian bagi Jaka dan juga Nawang, namun menjadi bencana bagi Jaka tarub. Hilangnya kesaktian Nawang Wulan mengakibatkanya harus sering ke lumbung padi untuk mengambil padi. Semakin banyak padi yang diambil semakin menipisnya padi dan membuat Jaka Tarub harus rajin bekerja pagi hingga petang tiba. Hingga suatu ketika, Nawang Wulan melihat kain yang sama seperti selendangnya digundukan padi miliknya. Penasaran dengan kain tersebut ia menarik dan mengambil kain tersebut. Tak di sangka kain itu adalah selendang miliknya yang dahulu hilang entah diambil siapa. Dengan murka dia menemui Jaka Tarub “ Kakang yang mengambil selendangku?” dengan gugup Jaka mengakui kesalahnnya. “ Kau berdusta, cinta dan kebohongan adalah hal yang berbeda”. Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Nawang Wulan hingga akhirnya ia kembali ke kahyangan dan meninggalkan Jaka tarub serta Nawangsih.
Penutup cerita lebih menarik lagi, mereka mengulang kembali adegan awal saat mereka memulai cerita. Hingga para penonton mengetahui maksud keseluruhan isi teater tersebut. Apa yang ditampilkan di awal adalah sosok Jaka Tarub yang sudah ditinggalkan oleh Nawang Wulan kemudian bermimpi dan isi mimpi Jaka Tarub adalah apa yang dimunculkan setelah adegan pertama muncul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar