Selasa, 20 Desember 2016

Bulan Bahasa UPGRIS "Bersastra"


            Menyambut Bulan Bahasa yang jatuh pada Bulan Oktober , Universitas PGRI Semarang mengadakan acara "UPGRIS Bersastra” yang dilaksanakan pada Selasa, 19 Oktober 2016 di Balairung Universitas PGRI Semarang. Acara berlangsung dengan sangat meriah dengan di datangi oleh para dosen, tamu undangan dan juga para mahasiswa.  UPGRIS Bersastra juga membedah buku karya Triyanto Triwikromo dengan Slogan Tiga Buku, Tiga Pembaca, Tiga Kritikus, dan Satu Pengarang. Acara mulai tepatnya pukul 08.00 pagi dengan tampilnya Biscuittime menyanyikan lagu bertemakan puisi kemudian muncul tari-tarian dan dilanjutkan denganpembacaan puisi oleh sekumpulan mahasiswa.
            “UPGRIS Bersastra juga menyajikan drama apresiasi sastra karya Triyanto Triwikromo. Drama tersebut dimulai dengan datangnya seorang pria paruh baya mengenakan baju adat jawa kuno dan juga blangkon berwarna coklat. Pria tersebut membacakan puisi dengan lantangnya. Dengan postur yang gagah tegap dan gestur tubuh yang seakan mengajak penonton  mengikuti alunan gerakannya serta mengajaknya untuk ikut larut dengan perasaan yang ia rasakan.  Kemudian munculah beberapa penari perempuan mengenakan topi sawah dan membawa jaring ikan. Mereka menarikan sebuah tarian sesuai dengan isi puisi yang dibacakan. Dengan jari yang lentik, tubuh yang lincah dan gerakan yang luwes terlihat sekali mereka menari dengan indah. Tarian tersebut dibawakan oleh anak PGSD Universitas PGRI Semarang yang ikut mengapresiasi dan merayakan bulan bahasa dengan diketuai sendiri oleh wakil Rektor Universitas PGRI Semarang  Dra. Sri Suciati, M.Hum.
            Acara berlanjut dengan Lampu Pencahayaan. Disiniah tiga Kritikus pembedah buku karya Triyanto Triwikromo dihadirkan. Ketiga Kritukus  tersebut adalah orang-orang pilihan dari Triyanto yang sengaja meminta sendiri agar ketiga kritikus itulah yang dihadirkan untuk membedah buku karyanya. Acara pembedahan buku karya Triyanto Triwikromo dipandu oleh salah satu dosen UPGRIS Dr. Harjito, M.Hum yang dulunya adalah seorang sastrawan. “Sebelum membedah buku, Rektor Universitas PGRI Semarang Muhdi, S.H; M.Hum membacakan puisi karya Triyanto Triwikromo yang berjudul “Mati” dan dilanjutkan dengan puisi “Mereka Memalsukan Kisahku”. Suasana semakin meriah ketika Rektor menyanyikan lagu ciptaannya sendiri sambil bermain gitar. Seisi balairung bersorak dan bertepuk tangan dengan antusias.
            Pembedahan buku Triyanto Triwikromo berlangsung dengan cepat. Para Kritikus buku menyampaikan kritikan mereka masing-masing. Tiga kritikus tersebut adalah Dr. Nur Hidayat, Drs. S Prasetyo M.Pd, dan Eko Putro, S.Pd. Mereka juga mengulas sejarah perjuangan Triyanto Triwikromo dalam dunia tulis-menulis. Ada satu hal yang sangat menarik sekali ketika salah satu kritikus atau pembicara memberikan sebuah buku untuk para penonton yang sebagian besar adalah mahasiswa jurusan bahasa. Beliau memberikan pertanyaan kepada seluruh tamu dan peserta seputar buku-buku karya Triyanto Triwikromo. Alhasil ada mahasiswa yang beruntung yang dapat menjawab pertanyaan dan mendapatkan sebuah buku dari kritikus tersebut. Menarik bukan? Mungkin dapat dikatakan sebagai hadiah bulan bahasa pada tahun ini.
            Perayaan bulan bahasa dari tahun ke tahun memang berbeda. Ada sedikit perbedaan, namun maknanya tetap sama yaitu untuk memperingati bulan bahasa. UPGRIS Bersastra juga tidak hanya untuk mahasiswa jurusan bahasa saja melainkan untuk para penikmat dan pencinta sastra. Tidak hanya para mahasiswa yang meramaikan namun para dosen dan segenap sastrawan juga ikut andil dalam acara tersebut. Salah satu dosen sekaligus wakil Rektor Universitas PGRI Semarang Dra. Sri Suciati, M.Hum juga terlibat langsung dalam acara tersebut. Beliau menampilkan sebuah pembacaan puisi yang termasuk salah satu karya Triyanto Triwikromoyang berkolaborasi dengan saudara Erda seorang mahasiswa jurusan bahasa Inggris. Dengan semangatnya menunjukkan bahwa telah siap dan antusias ikut meramaikan bulan bahasa. Pembacaan puisi tidak langsung ia bacakan melainkan dengan permulaan tembang jawa atau macopat yang dinyayikan oleh Erda dan dilanjutkan dengan Sri Suciati membacakan puisi.
            Tidak puas dengan kritikan yang telah disampikan. Ketiga kritikus diberi kesempatan lagi untuk menyampaikan tanggapan mereka. Terlihat membosankan memang jikalau tidak mengerti atau mahkluk awam dalam dunia sastra. Banyak penonton yang acuh tak acuh dengan tanggapan mereka. “Toh saya tidak mengerti”mungkin kata demikian yang akan mereka lontarkan jikalau ditanya seputar tontotan yang mereka lihat. Hanya sekadar tontotan biasa dan hiburan semata saja bagi mereka yang tidak mengerti, mengenal, bahkan yang tidak paham akan sastra itu sendiri.
            Penutup acara dilanjutkan dengan tampilnya Biscuittime yang menyanyikan lagu mereka sendiri yang terinspirasi dari karya Triyanto Triwikromo “Moksa” judul yang mereka ambil dan dijadikan judul lagu. Tak hanya “Moksa” masih ada “Aku Hanya Angin”, “Aku hanya Laut”. Tidak sekadar tembangan saja. Lirik yang mereka buat sebagian besar adalah puisi ciptaan Triyanto Triwikromo. Mereka sengaja membuatkan lagu tersebut untuk dipersembahkan kepada beliau. Karena pada hari itulah hari yang membahagikan untuk Triyanto Triwikromo. Hari spesial untuk beliau yang dibuatkan acara bulan bahasa dengan UPGRIS Bersastra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar